Mengenal Ikan Betok : Klasifikasi, Habitat, Morfologi, dan Pembudidayaan



Ikan Betok merupakan ikan air tawar yang mempunyai kemampuan luar biasa. Contohnya adalah mampu bertahan di daratan dan berada di air yang oksigennya rendah. Kemampuannya tersebut berkat adanya labirin pada organ pernapasan.


Selain itu, di berbagai daerah penyebutan ikan betok juga beragam, contohnya ikan betik (Jawa), ikan puyu (Melayu), dan ikan papuyu (Banjar). Dalam bahasa Inggris ikan ini disebut dengan nama Climbing Gouramy, karena kemampuannya memanjat ke daratan.


Untuk mengenal lebih dekat lagi tentang ikan betok, maka pada tulisan berikut ini akan disajikan beberapa penjelasan mengenai klasifikasi sampai dengan pembudidayaannya. Mari simak dengan baik !


1. Klasifikasi

  • Kerajaan : Animalia
  • Filum : Chordata
  • Kelas : Actinopteri
  • Ordo : Anabantiformes
  • Famili : Anabantidae
  • Genus : Anabas

2. Habitat

Ikan Betok dapat ditemukan di rawa-rawa, sungai, dan danau. Selain itu juga, ikan ini dapat bermigrasi ke tempat berair lain ketika tempat tinggalnya dilanda kekeringan. Selain itu pada saat musim kemarau, ikan betok akan bersembunyi di dalam lubang.


Layaknya ikan gabus dan lele, ikan ini juga mampu mengambil oksigen langsung ke permukaan air. Begitu pun hidup di dalam kondisi rendah oksigen. Sebab adanya organ semacam labirin pada organ pernapasannya yang membantu ikan betok untuk tetap bernafas.


Makanan ikan betok adalah cacing, serangga, ikan kecil, dan hewan air lainnya. Memang ikan ini tergolong rakus saat memakan mangsanya. Oleh sebab itu ikan ini sering dijuluki ikan predator.


Di Indonesia sendiri ikan betok dapat ditemukan di Sulawesi, Daratan Sunda, Sumatra, Kalimantan, dan termasuk ikan introduksi (disebar) di Papua. Penyebaran ikan betok di dunia cukup luas mulai dari India, Tiongkok, Srilangka, Cina bagian Selatan, Philipina, Asia Tenggara lainnya, dan juga sepanjang garis Wallacea. Ikan ini merupakan ikan asli di wilayah Asia Tenggara, Sri Langka, Filipina, dan Cina.


3. Morfologi



Ukuran Ikan betok adalah sekitar 10 cm sampai 25 cm. Pada tubuhnya diselimuti sisik yang keras berwatna hijau kehitaman. Bentuk badannya seperti ikan cichlid, namun ikan betok mempunyai sirip atas yang menyerupai duri tajam.


Selain itu Ikan betok mampu berubah warnanya ketika ditempatkan di habitat yang berbeda. Contohnya ikan betok akan berwarna lebih tering ketika berada di air bening, sementara itu di alamnya ikan betok akan berwarna hitam kehijauan.


Ikan ini mampu mengambil oksigen di luar air (menggunakan alat labirin). Pada bagian insangnya terdapat rongga yang berbentuk labirin. Itulah yang dinamakan labirin. Untuk bentuknya gepeng, agak panjang, lubang insang sempit karena bagian gabungan daun insang lebar.


Ikan betok dalam keadaan normal menggunakan insang sebagai alat untuk bernafas, namun dalam kondisi ekstrim, mereka juga dapat menggunakan labirin untuk mengambil oksigen langsung di permukaan. Dengan cara tersebut menjadikannya dapat bertahan hidup dalam kondisi air yang minim oksigen.


Adanya kemampuan untuk berjalan di darat, ikan ini bergerak dengan ekornya, sirip dada dan tutup insang keras yang dapat dimekarkan. Namun daya kekuatannya di daratan memang hanya beberapa jam saja, jika terlalu lama maka ikan betok akan mati.


4. Pembudidayaan

Pembudidayaan ikan betok di Indonesia sendiri nampaknya belum banyak dan kurang dilirik oleh peternak lokal. Meskipun ikan ini punya daging yang enak dan kandungan gizi yang baik bagi tubuh. Namun di pasaran ikan betok belum banyak diminati dan belum terkenal luas.


Akan tetapi kalau kita tekuni dan berusaha untuk membudidayakan ikan betok, tentunya juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Persaingan dalam budidayanya pun belum banyak. Hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah benih yang di dapatkan dan masih mengandalkan dari tangkapan alam.


Akibat dari hal itu, sekarang ini mulai sulit mendapatkan ikan betok di alam. Karena adanya penangkapan yang mengabaikan lingkungan dan dalam jumlah besar menyebabkan penurunan populasi dari si ikan betok.


Untuk itu perlunya pembudidayaan ikan betok ini agar kelestariannya tetap terjaga dan tidak bergantung lagi pada tangkapan alam. Sebelum memulai budidaya akan lebih baik kalau mengetahui terlebih dahulu perbedaan jantan dan betina.


A. Perbedaan Jantan dan Betina :

Untuk membedakan jantan dan betina bisa melihat melalui bentuk tubuhnya.


a. Untuk induk betina :
  • Bentuk tubuhnya memanjang
  • Warnanya agak kusam
  • Perut gendut membesar
  • Mempunyai gerakan yang lamban
  • Lubang kelamin membulat

b. Untuk induk jantan :
  • Mempunyai bentuk tubuh membulat
  • Warnanya cerah
  • Mempunyai gerakan yang lincah
  • Lubang kelamin memanjang

B. Penyiapan Tempat

Proses perkawinan pada budidaya ikan betok bisa dilakukan dengan cara semi buatan, yaitu induced spawning (ikan dibiarkan memijah sendiri setelah disuntik hormon) atau alami. Namun kali ini kita akan melakukan dengan cara suntik hormon.


Dalam melakukan pemijahan kita bisa menyiapkan akuarium berukuran 60cm × 50cm × 45cm. Siapkan juga benda-benda seperti batu kerikil, batu besar sebagai tempat sembunyi.


Setelah semuanya siap, maka langkah selanjutnya adalah memasukkan ikan betok betina 2 ekor. Kemudian suntik keduanya dengan ovaprime (produk untuk merangsang ovulasi ikan) pada waktu sore hari. Suntik dengan dosis 0,5 ml /kg. Setelah itu masukkan ikan betina ke dalam akuarium.


Siapkan 6 ekor ikan betok jantan. Suntik dengan ovaprime dengan dosis yang sama pada ikan betina. Kemudian satukan dengan indukan betina di dalam akuarium. Biarkan terjadi pemijahan. Pemijahan terjadi pada waktu tengah malam sampai dengan pagi hari dan telur-telur ikan akan menempel pada dinding aquarium.


C. Penetasan Telur

Setelah telur-telur ikan betok menempel pada dinding akuarium. Maka selanjutnya adalah memindahkan indukan ikan ke wadah lainnya. Biasanya telur akan menetas dalam waktu 24 jam.


Setelah menetas anakan ikan masih berupa larva yang masih memiliki kuning telur. Setelah 3 hari kuning telurnya mulai habis, maka kita bisa memberinya makan artemia. Berilah 2 kali sehari pada waktu pagi dan sore. Setelah sekitar usia sebulan, ikan betok dapat dipindahkan ke kolam atau media yang lebih besar.


D. Pemindahan Media

Pemindahan ikan betok dapat dilakukan menggunakan kolam tanah. Caranya adalah siapkan kolam dengan ukuran 400 m². Kemudian isilah kolam menggunakan kotoran organik, bisa menggunakan kotoran ayam atau puyuh.


Tujuannya adalah untuk membuat air kolam terdapat makanan alami seperti plankton, cacing, dan binatang lainnya. Setelah itu tunggulah selama 2-5 hari. Setelah melewati 2-5 hari maka ikan betok dapat ditebar ke dalamnya.


Untuk kepadatannya bisa menggunakan jumlah 40 ekor per m². Setelah itu tinggalah lakukan perawatan dengan memberinya makan berupa cacing, pelet, atau serangga. Tapi lebih praktis kalau menggunakan pelet saja, selain menghemat dan mudah didapatkan.


E. Memanen Ikan



Ikan betok dapat dipanen setelah berusia sekitar 6 bulan dari masa tebar. Untuk cara memanennya bisa melakukan pengurasan air kolam baru kemudian menjaring ikan betoknya. Dan sortirlah ikan sesuai ukuran, ikan betok besar dimasukkan ke wadah besar, sementara ikan betok kecil dimasukkan ke wadah kecil. Ikan yang sudah dipanen bisa dikonsumsi sendiri maupun dijual ke pengepul ikan.


Demikianlah penjelasan mengenai ikan betok tersebut. Semoga dapat bermanfaat bagi kalian semua. Sekian dan terima kasih.