Mengenal Burung Gereja : Klasifikasi, Habitat, Morfologi, dan Fakta Menarik


Pernahkan kalian melihat burung yang tinggal di atap rumah dan terkadang hinggap di atap rumah dalam jumlah banyak. Pasti ada sebagian yang belum tahu jenis apakah burung tersebut? Jenis burung tersebut adalah burung gereja atau dikenal juga dengan burung pingai.


Mengapa burung tersebut dinamai burung gereja dan tidak dinamai burung rumah atau yang lainnya? Jadi dulu bangunan yang mempunyai arsitektur tinggi kebanyakan adalah gereja. Dan burung ini suka membuat sarang pada bangunan yang tinggi. Contohnya di sela-sela atap gereja.


Oleh sebab itu masyarakat yang kebanyakan melihat burung ini hinggap dan membuat sarang di gereja, maka dinamai lah menjadi burung gereja. Namun nama asli dari burung ini adalah Passer domesticus.


Untuk mengenal lebih dekat lagi tentang burung gereja, maka pada artikel ini akan disajikan mengenai klasifikasi sampai dengan fakta unik dari burung gereja. Oke, langsung saja kita mulai.


1. Klasifikasi

  • Kerajaan : Animalia

  • Filum : Chordata

  • Kelas : Aves

  • Ordo : Passeriformes

  • Famili : Passeridae

  • Genus : Passer

2. Habitat

Burung gereja dapat dijumpai dalam keadaan hidup berkelompok di perkotaan, perumahan, maupun di pedesaan. Mereka membuat sarang pada bangunan-bangunan tinggi dan tinggal di tempat tersebut.


Umumnya burung ini hidup berdampingan dengan manusia dan mereka juga kerap kali dianggap burung liar yang paling jinak. Burung gereja memakan biji-bijian dan serangga. Terkadang burung ini juga memakan padi yang sedang dijemur.


Bukan hanya di Indonesia saja, burung gereja juga ditemukan di luar negeri. Burung gereja yang ditemukan di dataran Afrika antara lain burung gereja passer, burung gereja petronia, dan burung gereja montifringila. Sedangkan jenis yang sering kita temui di sekitar rumah bernama ilmiah Passer domesticus.


Selain itu ada juga burung gereja yang hidup di dataran Amerika, mereka biasanya tinggal di atap-atap gereja dan bangunan besar. Burung gereja jenis ini disebut burung gereja domesticus.


3. Morfologi

Bentuk tubuh burung gereja hampir mirip burung pipit, namun sedikit lebih gemuk dan pada bulu burung gereja terdapat corak berwarna coklat hitam dan putih mirip motif batik. Ukuran tubuh burung gereja kurang lebih 2,5—4 cm.


Burung gereja jenis jantan mempunyai suara nyaring dan dapat juga dijadikan masteran burung lainnya. Suaranya pun memiliki durasi yang lumayan panjang. Dan hanya burung berjenis kelamin jantan saja yang memiliki suara nyaring. Sedangkan burung betina suaranya pendek-pendek.


Untuk menentukan ciri-ciri burung jantan dan betina adalah sebagai berikut.



Burung gereja jantan bulunya berwarna coklat kehitaman dan pada bulu tenggorokan warnanya hitam. Bulu kepala burung jantan abu-abu gelap. Dan warna bulu burung gereja jantan lebih dominan gelap.


Sedangkan burung gereja betina warna bulu tenggorokannya coklat. Pada bulu kepalanya berwarna coklat. Secara keseluruhan warna bulunya lebih dominan cerah.


Ketika musim kawin tiba, paruh burung jantan dan betina akan berubah warnanya. Paruh jantan berwarna gelap, sedangkan paruh betina cokelat. Setelah musim kawin selesai, maka warna paruh keduanya juga akan kembali seperti semula.


Untuk burung gereja yang sudah dewasa warna tubuhnya tampak pucat. Iris matanya berwarna cokelat, sedangkan paruh pada umumnya berwarna abu-abu dan kakinya berwarna cokelat.


4. Fakta Unik

Selain sebagai burung yang hidup secara liar dan membuat sarang di gedung-gedung atau atap rumah. Ternyata burung gereja juga mempunyai fakta unik yang harus kalian ketahui. Fakta unik pada burung gereja adalah sebagai berikut.


1. Lebih Memilih Bangunan daripada Pohon

Fakta yang pertama ini memang seringkali kita jumpai, yaitu bahwa burung gereja lebih menyukai membuat sarang pada bangunan yang tinggi. Dan jarang sekali ada burung gereja yang membuat sarangnya di atas pohon.


2. Hidup Berdampingan dengan Manusia

Memang sarang yang dibuat oleh burung gereja berada pada sela-sela atap rumah atau bangunan lainnya. Jadi mereka telah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia dan tidak merasa terancam oleh keberadaannya.


3. Terjadi Perebutan Pasangan Saat Musim Kawin

Saat musim kawin, burung gereja jantan akan membuat sarang dan berkicau untuk menarik perhatian betina. Namun saat itu juga banyak burung jantan lainnya yang juga mencari pasangan dan bisa terjadi adanya persaingan untuk memperebutkan betina.


4. Hidup Secara Berkelompok

Butung ini membentuk sebuah kelompok yang cukup besar dalam tempat tinggalnya. Tak jarang pula kita menemui burung gereja sedang bergerombol di atas bangunan. Mungkin jiwa sosial burung gereja ini cukup tinggi, dan tidak bisa hidup secara tunggal.


5. Bisa Menjadi Acuan Keasrian Lingkungan

Suatu lingkungan yang dapat ditemukan burung gereja yang masih banyak berkeliaran, bisa diketahui bahwa lingkungan tersebut masih asri dan pencemaran belum terlalu banyak.


Begitu pun sebaliknya ketika suatu lingkungan tidak ditemukan burung, bisa dikatakan bahwa lingkungan tersebut sudah tercemar oleh polusi atau yang lainnya.



Seperti itulah pembahasan kali ini mengenai burung gereja atau burung pingai. Saat ini populasi burung ini lumayan banyak sekali, namun kita juga perlu melestarikannya agar suatu saat burung ini tidak terancam keberadaannya. Dan masih bisa ditemui berkeliaran di sekitar kita.


Demikianlah penjelasan mengenai burung gereja ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kalian semua. Sekian dan terima kasih.