Cara Budidaya Ikan Betutu, Mudah dan Menguntungkan

Cara Budidaya Ikan Betutu, Mudah dan Menguntungkan

Ikan Betutu merupakan ikan air tawar yang hidup di dasar perairan dan terkenal malas untuk bergerak. Maka dari itu ada yang menyebut ikan betutu sebagai ikan pemalas, gabus malas. Namun dibalik kemalasannya, ternyata ikan ini merupakan komoditas ikan konsumsi yang bernilai ekonomis.


Meskipun ikan betutu tidak seterkenal ikan lele yang sudah banyak dibudidayakan. Akan tetapi ikan betutu ini layak untuk menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Mengingat sekarang ini kebutuhan ekspor ikan betutu ke luar negeri yang mulai meningkat dapat dijadikan peluang untuk membudidayakan ikan ini.


Selain itu daging ikan betutu yang lembut dan enak menjadikannya digemari oleh masyarakat Indonesia maupun luar negeri. Bukan hanya sekedar dimanfaatkan sebagi ikan konsumsi, namun ikan betutu dapat menjadi alat pengobatan.


Contohnya seperti yang dilakukan oleh negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, bahkan Jepang menjadikan kulit ikan betutu ini diolah menjadi minyak obat untuk pasien setelah menjalani operasi.


Langsung saja kita mulai mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan ketika akan membudidayakan ikan betutu. Untuk mengetahuinya lebih lanjut, maka akan disajikan beberapa hal pada tulisan berikut ini. Kalian pun dapat menyimaknya.


Sebelum mulai membudidayakan ikan betutu ada baiknya kalau kita mengetahui terlebih dahulu karakteristik dari ikan betutu. Karakteristik ikan betutu adalah sebagai berikut.


A. Kebiasaan Hidup di Alam

Ikan Betutu hidup di sungai, rawa, dan memilih berdiam diri di dasar. Serta ikan ini cenderung memilih tempat yang gelap, berlumpur, berarus tenang, atau wilayah bebatuan untuk bersembunyi.


B. Kebiasaan makan

Di habitatnya ikan betutu memakan ikan-ikan kecil, cacing, atau organisme lainnya, asalkan masih hidup. Ikan ini bisa menyantap makanan tersebut dalam jumlah yang besar setiap harinya.


C. Kebiasaan berkembang biak

Di habitatnya ikan betutu akan kawin pada musim penghujan di tempat yang berpasir bersih. Ikan ini kawin secara berpasangan. Telurnya akan diletakkan di dasar atau ditempelkan pada substrat, pinggiran batu, atau akar pohon kayu. Telurnya akan menyerupai kapas yang sangat lembut dan halus yang menempel pada substrat.


Nah, setelah kita mengetahui beberapa karakteristik di atas, maka langkah selanjutnya adalah memilih indukan ikan betutu yang akan dijadikan sebagai penghasil anakan.


1. Memilih Indukan

Karena untuk mendapatkan indukan ikan betutu di pasaran jarang dijumpai. Maka untuk memperoleh indukannya dapat melalui penangkapan dari alam sendiri atau dari nelayan. Biasanya indukan dipilih berdasarkan bentuk fisiknya yang bagus dan sehat.


Untuk membedakan jantan dan betina adalah dengan melihat bentuk dan warna tubuhnya. Caranya adalah sebagai berikut.




A. Betina
  • Badannya berwana lebih gelap
  • Bercak hitam lebih banyak
  • Papila urogenital berupa tojolan
  • Perutnya membundar
  • Lubang kelamin warnanya memerah
  • Ukurannya lebih kecil

B. Jantan
  • Badannya berwana lebih terang
  • Bercak hitam lebih sedikit
  • Papila urogenital segitiga pipih
  • Ukurannya lebih besar

2. Penyiapan Tempat



Untuk pemijahan ikan betutu dapat menggunakan kolam tanah maupun kolam terpal. Luas kolam yang digunakan sebenarnya tergantung jumlah yang akan dibudidayakan atau tergantung ketersediaan lahan.


Kolam memiliki bentuk persegi panjang dengan letak pintu pemasukan dan pembuangan berseberangan secara diagonal. Tujuannya agar kolam bisa memperoleh air dari saluran langsung dan pembuangannya pun bisa lancar. Debit air kolam minimal 25 liter/menit. Pergantian air yang berkala akan berpengaruh positif terhadap proses pemijahan.


Teknik pemijahan ikan betutu dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan secara alami dan pemijahan secara induksi (kawin suntik). Pada pemijahan induksi tidak mengenal musim, bisa 3-4 kali dalam satu tahun.


Ikan betutu mempunyai keinginan untuk kawin biasanya ketika musim penghujan. Pada musim hujan perkembangbiakan ikan betutu ini akan meningkat. Untuk pemijahan secara alami dilaksanakan di kolam pemijahan yang berukuran 20 x 10 m2 dengan kedalaman air 70-80 cm atau pada bak semen yang lebih sempit.


Sebelum induk dimasukkan, kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang pemijahan berupa segitiga yang dibuat dari asbes. Ukuran panjang segitiga 30 cm yang diikat dengan kawat dan diberi pelampung untuk mempermudah mengetahui keberadaannya.


Induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan setelah kolam terisi air setinggi 40-45 cm. Selama proses pemijahan, sebaiknya kolam memper­oleh pergantian air secara berkala. Proses pergantian air secara berkala ini terbukti mampu merangsang pemijahan hampir semua jenis ikan secara alami.


3. Pemijahan

Ikan betutu memiliki tingkah laku selama pemijahan berlangsung, yaitu berupa 5 tahapan sebagai berikut.

  1. Membentuk daerah kekuasaan
  2. Membuat sarang pemijahan
  3. Proses perkawinan
  4. Peletakan telurnya di sarang
  5. Penjagaan telurnya

Untuk pemijahan biasanya terjadi pada malam hari, tetapi tidak jarang pada siang hari ikan betutu juga melakukan pemijahan. Saat terjadi pemijahan, ikan ini akan kawin di dalam sarang segitiga. Selanjutnya, telur yang dihasilkan akan ditempelkan ke dalam kotak segitiga sarang pemijahan tersebut.


4. Pemindahan Telur

Setelah telur menempel di sarang segitiga, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah memindahkan telur tersebut ke wadah penetasan. Ciri-ciri telur ikan betutu berbentuk lonjong, transparan. Ukurannya sangat kecil, kira-kira hanya bergaris tengah 0,83 mm.


Telur tersebut melekat pada dinding sarang. Setelah kontak dengan air selama 10-15 menit, membran vitelinya akan mengembang dan panjang telur meningkat sekitar 50 % hingga telur berukuran 1,3 mm.


Untuk penetasan telur dilakukan di akuarium dengan mengangkat sarang pemijahan yang telah berisi telur. Sebuah sarang pemijahan bisa ditempati oleh sepasang induk, tetapi bisa juga ditempati beberapa ekor induk. Kapasitas akuarium sebaiknya minimal 60 liter.


Untuk menjamin proses penetasan, maka pada akuarium diberi aerasi oksigen, dan ditetesi beberapa tetes metil biru/blue untuk mencegah tumbuhnya jamur ikan.


Jumlah telur dalam setiap sarang berkisar 20.000- 30.000 butir. Telur tidak menetas dalam waktu yang bersamaan. Biasanya, penetasan berlangsung 2-4 hari. Setelah telur menetas, kekuatan aerasi/aerator oksigen dikurangi.


5. Pemberian Pakan



Untuk makanan anakan ikan betutu berupa pakan alami maupun pakan pelet yang telah dilembutkan. Pemberian pakan bisa dilakukan setelah kuning telur pada larva yang baru menetas telah habis.


Pemberian pakan dilakukan dengan 3 kali sehari pada pagi hari, siang dan sore secara berkala. Setelah ikan mulai tumbuh besar, maka selanjutnya adalah memindahkan ke kolam pendederan hingga bisa dipanen untuk dijadikan bibit yang akan dibesarkan ataupun di jual.


6. Pemindahan Kolam

Tujuan dari pemindahan ini adalah untuk memindahkan ikan betutu yang berumur remaja ke kolam pembesaran. Pembesaran dimaksudkan untuk menghasilkan betutu berukuran konsumsi.


Kolam yang dibutuhkan seluas 200-600 m2. Kolam diusahakan memperoleh air mengalir dengan konstruksi pematang kolam dari tanah dan pastikan terlebih dahulu apakah pematang bocor atau tidak bocor. Idealnya kolam betutu dengan pematang yang ditembok.


Di dalam kolam ditempatkan beberapa tempat persembunyian berupa ban bekas atau daun kelapa karena betutu menyukai lingkungan yang agak gelap. Sebelum kolam diisi dengan air, maka terlebih dahulu kolam diberikan pupuk kandang, bisa menggunakan kotoran ayam dengan dosis 0.5-1.5 kg/m2.


Kemudian mengisi dengan air. Setelah terisi dengan air secukupnya, maka tunggulah beberapa hari sekitar 2-5 hari. Setelah melewati hari tersebut, selanjutnya adalah memasukkan ikan betutu ke dalam kolam.


Adapun kepadatan saat penebaran tergantung ikan yang ditebarkan. Untuk ikan berat 100 gram dapat ditebarkan 20 ekor/m2, sedangkan yang beratnya 175 gram dapat ditebarkan sebanyak 8 ekor/m2.


7. Pemanenan



Setelah mencapai umur 8-12 bulan maka ikan betutu sudah siap untuk dipanen. Cara memanennya bisa menguras air kolam baru kemudian menjaringnya. Namun, sebelum itu siapkan beberapa wadah untuk menaruh ikan betutu yang sudah dipanen.


Setiap wadah dapat dimasukkan ikan yang sudah diseleksi berdasarkan ukurannya. Untuk ukuran yang siap jual minimal memiliki ukuran 150- 250 gram. Dan hasil panen tersebut bisa dijual ke pengepul ikan atau toko rumah makan yang membutuhkan bahan ikan betutu. Serta dapat juga dijadikan sebagi konsumsi sendiri.


Seperti itulah beberapa tahapan budidaya ikan betutu yang bisa dilakukan. Serta kalian pun dapat mencobanya. Sekian penjelasan mengenai budidaya ikan betutu tersebut. Semoga dapat bermanfaat bagi kalian semua. Sekian dan terima kasih.