Budidaya Ulat Hongkong dengan Toples Sederhana

Budidaya Ulat Hongkong dengan Toples Sederhana


Ulat hongkong memiliki ciri-ciri berwarna kuning keemasan dengan garis/ruas yang biasa digunakan sebagai pakan. Umumnya dipakai untuk makanan burung, ikan, maupun unggas.


Ulat tersebut merupakan larva dari sejenis kumbang berwarna hitam. Berbeda dengan kebanyakan jenis larva kumbang lainnya, karena larva ulat hongkong tidak mengeluarkan bau yang menyengat. Saat dipegang pun kita juga tidak perlu merasa jijik.


Tempat untuk memperoleh ulat ini dapat ditemukan di toko pakan hewan ternak. Di sana biasanya akan terdapat beberapa macam pakan juga, seperti jangkrik, kroto, dan lainnya. Ulat hongkong yang dijual umumnya akan ditimbang sesuai berat yang diminta pembeli, baru kemudian ditentukan harganya. Atau juga bisa sebaliknya.


Kalau di tempat saya, biasanya saya membelinya dengan cukup mengucapkan nominal uang saja. Contoh seperti, beli ulat hongkong Rp 10.000, setelah itu si penjual akan menimbang sesuai harga yang diminta.


Nah, kebetulan sekali pada kesempatan kali ini saya akan berbagi bagaimana cara budidaya ulat hongkong menggunakan toples sederhana. Cara ini pun juga pernah saya lakukan, dan ternyata cukup berhasil.


1. Siapkan Ulat & Wadah

Untuk langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan ulat indukan dan wadah. Ulat indukan dapat kita peroleh dengan membeli di toko pakan ternak. Selain itu, saat membelinya tidak perlu terlalu banyak, supaya nanti lebih mudah merawatnya.


Sementara wadah yang dibutuhkan adalah toples, atau kalau tidak ada bisa menggunakan wadah lain. Misalnya nampan, aquarium, baskom. Setelah semua perlengkapan di atas lengkap, maka sekarang kita hanya perlu memasukkan ulat hongkong nya ke dalam toples. Perlu diketahui, saat memasukkannya jangan terlalu padat atau kebanyakan.


Misal, toples satu diisi dengan seperempat ulat hongkong, dan begitupun juga dengan toples dua atau seterusnya.


2. Perawatan Ulat Hongkong

Untuk perawatan ulat hongkong lumayan mudah, kita hanya cukup memberikan makan secara berkala. Makanannya sendiri adalah sayuran (sawi, kangkung, kubis), pelet ikan, dan buah (kentang, jipang).


Namun, biasanya saya hanya memberikan makan berupa pelet ikan dan sawi. Sebab pakan tersebut mudah ditemukan di tempat saya. Apabila di tempat kalian mudah menjumpai beberapa pakan di atas, maka tak ada salahnya untuk mencobanya.


Sembari kita menunggu ulat hongkong berubah menjadi kepompong, perawatan yang dilakukan hanyalah memberi makan dan menjaga kebersihan wadah. Usahakan wadah yang digunakan untuk memelihara jangan sampai lembab, agar tidak mengganggu pertumbuhan ulatnya.


3. Merawat Kepompong

Setelah ulat berubah menjadi kepompong, maka hal yang harus dilakukan adalah memindahkan kepompong tersebut ke wadah lainnya. Tujuannya agar perkembangan kepompong tidak terganggu dan ketika kumbang akan keluar tidak mengalami cacat.


Saya pun pernah mengalami hal tersebut, waktu itu ulat yang sudah jadi kepompong saya biarkan saja tercampur dengan ulat hongkong nya. Namun, ketika kepompong sudah mulai matang alhasil keluarlah kumbang yang mengalami kecacatan. Mengapa hal tersebut terjadi?


Setelah saya lihat-lihat. Ternyata sewaktu kumbang mau keluar dari kepompongnya, mereka mengalami kesulitan karena terganggu oleh pergerakan ulat hongkong yang masih satu wadah. Contohnya seperti sayap kumbang mengalami bengkok, tidak proporsi, dan lainnya.


Nah, maka dari itu setelah saya pisahkan dengan wadah tersendiri, ternyata kumbang yang keluar tidak mengalami kecacatan atau bisa dibilang persentase kecacatannya rendah.


Untuk merawat kepompong tersebut cukup kita biarkan saja sambil menunggu waktunya kumbang keluar.


4. Merawat Kumbang

Setelah tadi kepompongnya berubah menjadi kumbang, maka kita bisa memindahkan kumbang tersebut ke wadah lain. Untuk wadahnya bebas, bisa menggunakan toples atau lainnya.


Hal yang perlu diperhatikan adalah pada wadah tersebut kita beri beberapa kapas. Kapas ini bertujuan untuk meletakkan telur sewaktu kumbang bertelur. Biasanya kumbang dewasa akan mengeluarkan telur berwarna putih yang lumayan banyak.


Selain itu kita juga jangan lupa untuk tetap memberikan makan kumbang tersebut dengan sayuran, pelet ikan, atau pakan seperti ulat hongkong. Memang makanan ulat hongkong dengan kumbang nya juga sama. Kalau saya biasa memberikan sawi, kangkung, dan pelet ikan.


Untuk memudahkan dalam penyortiran, maka biasanya saya akan memindahkan kumbang-kumbang pada wadah tersebut ke wadah lain yang sama, namun belum berisi telur. Contohnya seperti memindahkan kumbang setelah jangka waktu 1 bulan.


Sementara wadah yang sudah berisi telur-telur selama 1 bulan saya biarkan sampai telurnya menetas.


Sebenarnya hal tersebut tidaklah wajib, namun hanya memudahkan dalam penyortiran saja. Saya cuma ingin mengetahui seberapa banyak ulat hongkong yang dapat dihasilkan selama 1 bulan.


5. Merawat Anakan & Pemanenan

Untuk perawatan anakan ulat hongkong yang masih kecil-kecil, kita hanya perlu memberinya makan saja. Makanannya masih sama dengan ulat hongkong dewasa.


Selama perkembangan dan pertumbuhan ulat hongkong menuju dewasa, mereka akan cukup sering berganti kulit. Maka dari itu kita bisa membersihkan sisa-sisa kulit yang terkelupas tersebut.


Kira-kira sampai umur 1 - 2 bulan, ulat hongkong sudah mulai bisa dipanen. Sebenarnya waktu panen tersebut tidak selalu pasti, hal tersebut juga tergantung dengan pemberian makanannya. Bila kita memberikan makan banyak, maka bisa dipastikan ulat hongkong akan lebih cepat untuk dipanen. Begitu juga sebaliknya.


Akhir Kata

Cukup sekian saja penjelasan mengenai cara budidaya ulat hongkong menggunakan toples sederhana. Cara tersebut terbilang mudah dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Selamat mencoba, semoga bermanfaat. Terima kasih... :)