Kemanakah Perginya Belut Sawah saat Musim Kemarau

Kemanakah Perginya Belut Sawah saat Musim Kemarau

Indonesia merupakan negara tropis yang dilewati oleh garis khatulistiwa, maka tak heran Indonesia memiliki dua musim yang terjadi secara bergantian setiap 6 bulan sekali selama setahun, yaitu musim hujan yang terjadi antara bulan Oktober hingga April dan musim kemarau yang terjadi pada bulan April sampai Oktober. 


Namun terkadang ada suatu anomali tentang terjadinya kedua musim tersebut. Yaitu ada satu musim yang terjadinya lebih panjang dari perkiraan waktu yang telah ditentukan. Biasanya hal tersebut terjadi karena perubahan suhu dan iklim bumi yang berpengaruh pada terjadinya cuaca. 


Sebagai contoh, terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan dan berdampak pada terjadinya kekeringan. Akibat dari hal tersebut menimbulkan suatu masalah yang terjadi pada lahan pertanian yang mengalami gagal panen dan hilangnya habitat ekosistem persawahan.


Dari spekulasi di atas dapat dikatakan bahwa sawah yang mengalami kekeringan, tentunya hal itu berdampak pada makhluk hidup yang berada di area persawahan tersebut, contohnya belut. Apakah kalian merasa penasaran kemanakah perginya belut ketika sawah mengering. Masih menjadi misteri kenapa sawah yang kering tidak ditemukan belut dan setelah basah kembali ternyata masih ada belut yang tinggal di dalamnya. 


Sebenarnya pertanyaan tersebut selama ini membuat kita berpikir bahwa apakah kalau sawah mengering semua belut yang ada di sawah itu akan mati atau pun belut-belut mampu memprediksi bahwa akan terjadinya kekeringan yang melanda wilayahnya. Maka dari itu para belut telah meninggalkan tempat tinggalnya sebelum kekeringan melanda. 


Akan tetapi semua itu hanya dugaan sementara yang belum pasti kebenarannya. Namun untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, pada artikel berikut ini akan dijelaskan kemanakah perginya belut ketika sawah mengering. Daripada penasaran, langsung saja mulai membacanya. Yuk, mari disimak!!



Belut merupakan sejenis ikan yang hidup di dalam lubang berlumpur pada area persawahan maupun tepian parit. Saat tinggal di dalam lubang tersebut belut dapat bertahan dikarenakan mempunyai organ pernapasan tambahan berupa selaput tipis berlendir yang terletak di dalam rongga mulutnya. Juga ditambah lagi belut mampu mengambil oksigen langsung ke permukaan air. 


Serta permukaan tubuhnya yang mengeluarkan lendir dapat membantu untuk bergerak ketika sedang berada di dalam lubang persembunyian nya. Di dalam lubang lumpur tersebut, belut menunggu mangsanya datang mendekati lubang dan saat itu juga belut akan memakannya. 


Ketika musim kemarau akan datang, para belut akan memperdalam lubang persembunyiannya sampai menemukan sumber air. Saat musim kemarau berlangsung serta mengakibatkan sawah mengering. Belut akan bertapa di dalam lubang yang sebelumnya telah di dalamkannya hingga musim penghujan tiba atau sawah yang menjadi habitatnya kembali tergenang oleh air kembali. 


Ketika sawah mulai tergenang air kembali, belut akan keluar dari lubang persembunyiannya untuk mencari makanan. Biasanya belut akan mencari makan pada waktu malam hari. Maka dari itu belut sering disebut sebagai hewan nokturnal. Pada waktu malam hari terkadang para pencari belut mulai menjalankan aksinya.


Namun ketika baru saja mulai memasuki musim penghujan terkadang ukuran belut menjadi lebih kecil atau kurus dikarenakan kurangnya makanan saat musim kemarau. Ketika sudah memasuki pertengahan musim penghujan, biasanya ukuran belut akan kembali seperti semula atau lebih besar.


Waktu yang pas untuk menangkap belut adalah ketika memasuki masa tanam padi dan akan berakhir ketika tanaman padi sudah mulai berumur 1,5 bulan atau sawah sudah tertutup tanaman padi. Waktu penangkapannya dilakukan saat malam hari, dikarenakan saat malam hari belut akan keluar dari lubang persembunyiannya untuk mencari makan.



Adapun cara penangkapan belut dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari dipancing dengan mata pancing, dijebak menggunakan bubu, dan menjaring belut yang berada diluar lubangnya. Apabila dilakukan dengan cara memancingnya, maka kita harus tahu mana lubang yang ditempati belut dan yang bukan.


Sebab terkadang ada juga ular yang mendiami suatu lubang di persawahan dan juga kepiting. Ketika kita tidak tahu lubang mana yang ditempati belut dan malah memasukannya ke dalam lubang ular hal tersebut dapat membuat kita menjadi kaget sedikit khawatir ketika mendapatkan ular. Karena untuk yang baru pertama kali menemui hal tersebut akan merasa panik ketika melepaskan kail dengan ular yang didapatkannya.


Lain halnya dengan yang sudah pernah mengalami hal tersebut dan akan merasa lebih lega serta tidak panik saat ingin melepaskan kail pancing dengan ular yang didapat. Namun tetap juga harus berhati-hati ketika akan melepaskan ular yang tersangkut dengan kail pancingnya. Agar tidak terjadi hal yang diinginkan, maka akan lebih baiknya untuk mengetahui perbedaan lubang ular, belut, dan kepiting pada link berikut ini.


Akan tetapi keberadaan belut tak lepas dari tingkat keasrian suatu habitatnya. Maka ketika sawah yang menjadi habitatnya masih belum tercemar dan minimnya penggunaan pestisida dapat dikatakan belut masih banyak terdapat di dalamnya. Namun lain halnya ketika penggunaan pestisida marak terjadi dan berakibat berkurangnya belut yang mendiami area tersebut atau tidak ada sama sekali.


Hal tersebut tentunya berdampak pada para pencari belut yang sulit untuk menemukan belut kembali. Dan berakibat pada kelangkaan belut pada suatu wilayah serta menyebabkan tingginya harga belut di pasaran. Serta saat ini masih minimnya pembudidayaan belut yang terjadi dan lebih besar mengambil langsung dari alam.


Maka dari itu dapat diambil pelajaran yang berharga untuk selalu melestarikan lingkungan demi terjaganya suatu habitat di dalamnya. Tentunya lingkungan yang asri dapat memberikan kita manfaatnya baik berupa mahkluk hidup didalamnya maupun keindahan alamnya.



Demikianlah pembahasan mengenai belut sawah saat musim kemarau terjadi. Semoga dapat bermanfaat. Sekian dan terima kasih.