Menanggapi terkait pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia dalam Bidang Pendidikan

1. Berikan argumen saudara terkait pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia ! 
2. Sajikan dengan contoh kasus yang terjadi !


Jawaban : 

1. Bidang Pendidikan 

     Menurut pendapat saya dalam pelaksanaan hak asasi di Indonesia dalam bidang pendidikan masih dirasakan oleh saudara-saudara kita yang berada di daerah terpencil. Misalnya saja pada waktu sekarang ini negara Indonesia yang sedang dilanda pandemi covid-19 dan mengharuskan pembelajaran daring. Mungkin bagi kita yang tinggal di daerah berkembang dan perkotaan yang mendapat akses jaringan internet tidak begitu terasa berat, namun bagi pelajar yang daerahnya belum terjangkau akses jaringan internet, hal itu terasa berat dan ditambah lagi harus mencari tempat yang terdapat sinyal bagus agar bisa mengakses pembelajaran daring. Serta untuk bisa mengaksesnya harus dibutuhkan kuota yang tentunya tidak murah.

     Dan kabar baiknya pemerintah akan memberikan kuota internet untuk pembelajaran daring, tetapi ada pula yang belum dapat kuota tersebut. Dalam pelaksanaan pembelajaran daring tersebut, para pelajar ada yang merasa kurang paham dengan materi pembelajaran, dikarenakan keterbatasan pembelajaran daring. Mungkin dengan penyampaian materi melalui video conference maupun diberikan modul sulit dipahami.

     Belum lagi bagaimana nasib pelajar yang didaerah terpencil, fasilitas dan tempat pembelajarannya juga bisa dikatakan kurang layak. Mungkin juga akses internet belum sampai disana dan para pelajar belum tentu paham pelaksanaan pembelajaran daring. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dengan sekolah-sekolah yang ada di daerah terpencil, bagaimana alternatif pembelajaran saat pandemi bagi daerah-daerah yang belum memiliki akses internet dan pemerintah mensurvei sekolah-sekolah mana yang fasilitasnya belum memadai, untuk dilakukan pembanguan dan peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran. Serta kalau semua warga negara Indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak maka akan terpenuhinya hak untuk menuntut ilmu dan bisa menciptakan sumber daya manusia yang unggul, kreatif, dan mampu bersaing bagi pembangunan Indonesia yang adil dan makmur.


2. Contoh Kasus

     Minimnya peningkatan akses pendidikan dirasakan sekolah-sekolah yang berada di salah satu pedalaman Papua, tepatnya di Desa Tangma, Kabupaten Yahukimo. Desa yang diapit pegunungan ini dapat ditempuh dari Wamena sekitar 3 jam dan hanya menggunakan mobil offroad atau berjalan kaki sekitar 10 jam seperti yang biasa dilakukan warga setempat. Di Tangma hanya terdapat 2 SD dan 1 SMP, yaitu SD YPPGI Tangma, SD Inpres Wamerek, dan SMP YPPGI Tangma.

     Menurut kepala sekolah SMP YPPGI Tangma Anike Tenouye, para guru di Tangma bekerja dengan hati untuk mengajar siswa. Beberapa malah hanya sebagai relawan untuk mengajar tanpa adanya gaji dan perhatian dari dinas maupun pemerintah setempat. 

     Guru SD dan SMP (YPPGI) ada 9 orang, bukan hanya guru honorer saja, tapi sukarela. Dan di SD Inpres Wamerek hanya terdapat 1 guru yang mengajar 6 kelas sekaligus. Menurut Epanggis Soleman Hesegem, satu-satunya guru di SD tersebut, kepala sekolah tinggal di kota dan hanya datang ketika ujian tiba. SD YPPI Tangma sudah berdiri sejak tahun 1963 dan kini memiliki 400 siswa. Namun, perubahan sarana dan prasarana seperti ruang kelas masih minim, kecuali dilakukan gotong-royong warga setempat. 

     Sulitnya akses listrik maupun internet membuat sekolah di Tangma ketinggalan informasi terkini terkait pendidikan, misalnya masih memakai kurikulum pendidikan yang lama. Dinas pendidikan tidak ada yang pernah berkunjung ke desa tersebut. Tangma berada di paling ujung Kabupaten Yahukimo dan lebih dekat dengan Wamena. Untuk menuju dinas pendidikan di pusat Kabupaten, dia butuh naik pesawat atau harus berjalan kaki menembus gunung selama 10 hari, karena tak ada jalan mobil.